Teknik marker dalam pengembangan aplikasi Augmented Reality (AR) atau realitas tertambah, lambat laun semakin ditinggalkan karena adanya metode markerless. Perkembangan teknik markerless yang tidak membutuhkan objek penanda untuk memunculkan objek dunia digital yang ditambahkan ke dunia nyata menyebabkan teknik marker “kalah” dari markerless. Namun teknik markerless juga bukan tanpa kelemahan, teknik ini memerlukan pemahaman lebih mendalam dalam identifikasi lokasi munculnya objek digital, khususnya dalam proses programming-nya. Hal ini menyebabkan banyak aplikasi yang tetap menggunakan objek penanda, namun dengan “perubahan” dari penanda tersebut, seperti penanda dalam bentuk identifikasi bidang datar, ataupun penanda dalam bentuk lokasi GPS.
Khoerul Anam, S.Kom (Alumni – Prodi Teknik Informatika) mengembangkan aplikasi sederhana berbasis Augmented Reality menggunakan teknik marker berbasis Android untuk membuktikan “sisa” ketangguhan teknik tersebut. Berdasarkan riset yang sekaligus digunakan sebagai skripsinya, Ia menyimpulkan bahwa teknik marker masih sangat baik dalam memunculkan objek digital dalam dunia nyata melalui perantara smartphone. Lebih jauh lagi, dengan rating kualitas marker yang tinggi, maka kecepatan terdeteksinya marker dalam sistem AR menjadi semakin baik. Ia juga menambahkan bahwa jarak terbaik untuk mendeteksi marker pada sistem AR nya pada marker dengan jarak 10 cm.






